Enter your keyword

Pelatihan Pembelajaran Berkelanjutan bagi Tenaga Kependidikan Struktural

Pelatihan Pembelajaran Berkelanjutan bagi Tenaga Kependidikan Struktural

BANDUNG, itb.ac.id–UPT Pengembangan SDM Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan Pelatihan Pembelajaran Berkelanjutan untuk Tenaga Kependidikan Struktural di lingkungan ITB, Selasa (28/2/2023). Berlokasi di Multipurpose Hall CRCS ITB, acara ini menghadirkan narasumber Prof. Intan Ahmad Musmeinan, Ph.D.

Pembelajaran berkelanjutan adalah proses pencarian pengetahuan baik secara formal maupun nonformal. Tujuan lifelong learning adalah untuk memotivasi diri secara sukarela baik alasan personal maupun profesional. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mempersiapkan tenaga kependidikan agar memiliki jiwa kepemimpinan yang selalu haus akan ilmu pengetahuan dan rasa ingin belajar.

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya ITB, Ir. Gusti Ayu Putri Saptawati, M.Comm., dalam sambutannya menyampaikan, beberapa waktu yang lalu, Rektor ITB telah memperkenalkan “BAKTI” sebagai kompetensi wajib yang harus dipegang oleh dosen dan tenaga kependidikan ITB.

“BAKTI” sendiri merupakan akronim dari enam kompetensi wajib yaitu: (1) Belajar terus menerus; (2) Adaptif; (3) Kolaboratif; (4) Kinerja Tinggi; (5) Toleransi; dan (6) Integritas. Jargon tersebut dibuat oleh Dr. Willy Himawan, S.Sn., M.Sn., dosen dari KK Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB.

Selain itu, WRSD juga berbagi prinsip hidup “work hard, play harder.” Makna itu selalu ia tanamkan dalam pekerjaan sehari-hari. “Maknanya dalam konteks kita hidup tidak hanya urusan otak kiri. Tetapi bila diperhatikan yang sukses itu networking-nya banyak,” ujarnya.

Ia berharap kepada tenaga kependidikan harus pandai bersosialisasi. Dalam konteks ini mudah-mudahan ilmu yang dibagikan Prof. Intan dapat bermanfaat. Ia berharap, para tenaga kependidikan struktural bisa belajar dan bonusnya bisa silaturahmi melalui acara ini.

“Belajar adalah kewajiban. Kami berharap materi pelatihan continuous improvement bisa diberikan secara terus menerus,” kata WRSD.

Peran Tendik di Universitas

Prof. Intan Ahmad mengawali materi dengan quote dari Charles Darwin bahwa manusia yang bisa bertahan bukan yang paling kuat atau yang paling pintar, tetapi yang mampu bertahan hidup adalah yang mampu beradaptasi. Salah satu bentuk adaptasi tersebut adalah dengan belajar. “Dalam bekerja agar kita bisa bertahan adalah harus belajar terus,” ujarnya.

Ia mengatakan, universitas adalah suatu organisasi kreatif. Keberadaan staf nonakademik atau tenaga kependidikan, biasa disebut tendik, di universitas memainkan peranan penting dalam mendukung misi akademik dan memberikan layanan penting kepada komunitas universitas. “Tendik berperan dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif dan produktif,” jelas Prof. Intan.

Guru Besar di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB itu menyampaikan beberapa permasalahan umum pada tendik. Pertama, kemampuan menulis yang kurang, contohnya dalam menulis surat/email. Kedua, gaptek atau gagap teknologi. Ketiga yaitu keterampilan melayani stakeholder, contohnya dalam komunikasi, serta kemampuan menghadapi masalah sulit. Keempat adalah manajemen proyek, yaitu keterampilan merencanakan, mengorganisasikan, budgeting. Dan terakhir masalah kepemimpinan.

“Selanjutnya adalah masalah literasi manusia atau kompetensi budaya. Kemampuan ini menjadi penting untuk saling memahami perbedaan latar belakang budaya,” tambahnya.

Sementara itu, kata Prof. Intan, terdapat tantangan bagi tendik dalam mendukung misi akademik di antaranya: (1) keterbatasan sumber daya: dana, personil, teknologi; (2) perubahan lingkungan kerja; (3) beban kerja yang makin bertambah; (4) terbatasnya kesempatan untuk memperoleh pengembangan profesional; (5) kurang memperoleh rekognisi.

Berkaitan dengan kepemimpinan di lingkungan tendik, ia mengatakan, seorang pemimpin harus mengetahui dengan jelas perbedaan antara leadership dan manajemen. Leadership adalah kemampuan berkomunikasi, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan. Sementara kemampuan manajemen adalah keterampilan mengatur waktu, memimpin, mengorganisir, mengatur pemahaman tentang kebijakan Institusi, dan pemahaman tentang hukum atau peraturan yang relevan.

“Dan yang tak kalah penting, pahami institusi ITB. Misalnya bagaimana proses pengambilan keputusan dilakukan yang mengacu pada struktur organisasi dan peraturan di ITB,” jelasnya.

No Comments

Post a Comment

Your email address will not be published.

X